Waw.. Putusan Pertunangan Sepihak di Sikka, Berujung Pengadilan

SIKKA. SPEKTRUM-NTT.COM || Kasus pemutusan pertunanganan sepihak yang terjadi di Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT, berujung Pengadilan pasalnya pihak penggugat merasa dirugikan dari keputusan Pemutusan Pertunanganan Sepihak.

 

Viktor Nekur, S.H, Advokat dari Orinbao Law Office, sebagai kuasa hukum penggugat menyatakan (13/10/2021) bahwa pihaknya selaku kuasa hukum mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum sekaligus tuntutan ganti rugi kepada pihak tergugat I berinisial YK (bapak), tergugat II berinisial NS (Ibu), dan tergugat III berinisial EM (Anak/tunangan). 

Viktor melanjutkan bahwa dasar dari gugatan tersebut dilakukan karena pihak tergugat tidak menghadiri undangan Lurah Kabor dan Nangameting bersama para ketua lembaga adat untuk menyelesaiakan kasus ini secara hukum adat yang berlangsung di Kelurahan Nangalimang.

Viktor lebih jauh menyatakan bahwa atas pemutusan pertunanganan sepihak tersebut menyebabkan Kliennya merasa dirugikan secara materil dalam acara adat POTO WUA TA’A dengan rinciannya dan dalam adat TUNG BALIK GETE dengan rinciannya. Sementara kerugian imateril berupa beban pikiran serta rasa malu dari penggugat beserta keluarga yang tercoreng selama ini.

Ia menambahan bahwa berdasarkan Adat Krowe Sikka, pihak yang membatalkan pertunangan diwajibkan secara adat untuk mengembalikan semua materi adat tanpa cacat dengan prinsip satu menjadi dua (HA GITA RUA), dengan hukuman menyerahkan semua tuntutan kepada para penggugat dalam keadaan utuh , sempurna tanpa beban apapun atasnya dan bila perlu dengan bantuan aparat Kepolisian.

 

Ia mengharapkan supaya para pihak mempunyai kedewasaan untuk menghargai adat karena kalau tidak maka hukum akan memberi pertimbangan tersebut. Dan ini menyangkut harkat dan martabat yang harus dihargai, sehingga kedua belah pihak tersebut tidak merasa terbebani, dan juga menjadi pelajaran untuk masyarakat. 

 

Anton Stef, S. H, selaku Kuasa Hukum Tergugat, ketika dikonfirmasi Via telepon, Rabu (13/10/2021) mengatakan pihaknya siap hadapi gugatan yang diajukan oleh penggugat. Ia menyatakan bahwa tuntutan yang disampaikan oleh penggugat tidak berdasar dan nanti akan ditunjuk dan disampaikan pada saat jawaban pada saat sidang lanjutan nanti.

 

“Kami punya alasan mengapa tidak berdasar dan nanti akan kami tunjukan. Kan nanti kita lihat pada saat mediasi, kalau kedua belah pihak menyatakan tidak berdamai nanti langsung diserahkan kepada Majelis untuk disidangkan dan disaat itu baru pihak kami menjawab” Ujar Anton. 

 

Kronologis Kejadian Yang Disampaiakan oleh Pihak Penggugat

 

SB yang adalah anak dari YB, penggugat yang merasa dirugikan dari pemutusan pertunanganan sepihak, mengisahkan tentang awal mula hubungan pacaran dengan EM yang berjalan kurang lebih 6 tahun semenjak berkenalan di Bandung tahun 2015. Hubungan tersebut kemudian berlanjut sampai pada pertunangan dengan proses masuk minta (Wua Ta’a) pada tanggal 5 januari 2020 dan pada waktu itu disepakati menikah dalam tahun 2021.

 

Dalam proses masuk minta tersebut, pihak tergugat menyepakati dan menerima barang- barang berupa 1 ekor kuda, uang tunai 1 juta dengan ditandai cincin pertunanganan, uang tunai layak edar pada saat ’Pue Inan Buan’, dan seperangkat pakaian wanita dan perlengkapan kosmetik.

 

Ia melanjutkan bahwa pada waktu itu juga setelah pinang disetujui, pihak tergugat meminta delegasi dari pihak ‘Me Pu’ untuk kembali mengambil belis atau mas kawin dan dipenuhi pada waktu itu juga dengan rincian uang tunai layak edar 25 juta, gading 1 batang, 1 buah emas 24 karat 10 gram dengan harga 10 juta, gading satu batang dengan ukuran 20 cm dengan harga 100 juta, kuda hidup berbadan sehat dan hidup sebanyak 5 ekor, dan pisang, kelapa, ikan, padi, dan jagung sebanyak 1 mobil dump truck isi penuh.

 

Ia menyatakan bahwa belis/ mas kawin diterima oleh keluarga tergugat dengan penuh sukacita, damai dan bahagia, dan dilanjutkan dengan rencana pembicaraan pernikahan yang akan berlangsung dalam tahun 2021, sementara tanggal dan bulan akan ditentukan bersama oleh kedua belah pihak.

 

Pada tanggal 15 Juli 2020, terjadi benturan komunikasi antara SB dan EM (pasangan pertunanganan saat itu) di rumah YK (ayah dari nona EM). Benturan komunikasi tersebut bermula dari nona EM yang selalu diam dan acuh tak acuh ketika ditanya oleh SB (calon suaminya) berkali- kali dan kalaupun terpaksa menjawab EM selalu mengatakan tidak tahu dengan sikap acuh tak acuhnya dan juga masa bodoh.

 

Terhadap sikap EM ini membuat SB merasa terpukul, tersinggung dan marah, sehingga sebagai manusia SB tidak mampu mengendalikan emosinya hingga terjadi pertengkaran diantara mereka. Pada saat itu, SB sampai mengeluarkan pernyataan ‘apabila kamu tidak mau dengan saya, maka kembalikan saya punya barang, lalu dijawab oleh EM ‘saya tidak mau dengan dia, kembalikan mereka punya barang. Selanjutnya anak SB diusir pulang dari rumah EM oleh keluarganya, dan tidak boleh datang lagi ke rumah serta bertemu tunangannya.

 

Pada tanggal 11 agustus 2020 orangtua SB mengunjungi bapak YK dan istri guna menyampaikan permohonan maaf atas kejadian pada tanggal 15 juli tersebut, dan mendapatkan jawaban bahwa hasil pertemuan keluarga bapak YK bersepakat melarang anak SB untuk tidak boleh datang ke rumah dan bertemu dengan EM tanpa batas waktu yang ditentukan.

 

Mendapat jawaban tersebut, YB orangtua dari SB menanyakan samapai kapan SB bisa bertemu dengan EM tunangannya, dan meminta untuk memberitahu EM agar membuka blokir media komunikasi dengan SB guna membangun komunikasi.

 

Tanggal 17 agustus 2021, terjadi dua kali kunjungan di rumah YB, utusan dari YK tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dalam kunjungan pertama, salah satu dari ketiga orang utusan untuk menyatakan bahwa ‘Kami antar kembali cincin dengan alasan anak SB yang minta, dan kedua’ ita a’e tora manu-manu’. YB kemudian kembali bertanya ‘masih ada yang mau disampaikan’, kemudian utusan menjawab bahwa hanya dua hal tersebut.

 

Lalu dijawab oleh YB, Ia tidak menerima cincin tunangan ini karena ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari belis/mas kawin, tarik kembali bahasa ‘ita a’e manu manu’ dan meminta untuk bawa pulang cincin tersebut, dan mengatakan akan ke rumah YK guna membicarakan persoalan mereka berdua. Pada tanggal yang sama kemudian datang lagi dua orang utusan dan mengatakan ‘Kami datang antar cincin, terima atau tidak saya letakan di atas meja ini, kami tidak mau dibikin seperti bola’ kemudian mereka tinggalkan rumah tanpa pamit.

 

Januari 2021, kami temukan foto pre-wedding EM dengan laki-laki lain di medsos. Perbuatan tersebut menurut kami sangat memalukan dan merusak hubungan tunangan tersebut dan merendahkan norma adat yang berlaku. Sehingga pada tanggal 28 Juni 2021, pihaknya memohon untuk dilakukan proses mediasi masaalah pemutusan hubungan pertunangana tersebut namun tidak bisa hadir dengan bebagai alasan.

 

Atas dasar itu pihaknya kemudian melakukan gugatan ke Pengadilan Negri Sikka.

Youtube Spektrum-ntt TV

LIVE TV ONLINE

Komentar

wave

Tekan ESC untuk menutup