SMA Negeri 1 Amabi Oefeto Andalkan Peternakan Ayam untuk Danai Sekolah dan Bayar Guru Non-Dapodik

BAGIKAN

NTT, spektrum-ntt.com | Di tengah minimnya anggaran pendidikan dan terbatasnya dukungan operasional bagi sekolah di wilayah pedesaan, SMA Negeri 1 Amabi Oefeto di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, muncul sebagai contoh inovasi yang menembus batas konvensi. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Nelson Nome, sekolah ini mengembangkan model pembiayaan mandiri lewat unit peternakan ayam kampung yang kini menjadi tulang punggung operasional sekolah.

Dengan populasi lebih dari 300 ekor ayam kampung, SMA N 1 Amabi Oefeto membangun sistem ekonomi internal berbasis potensi lokal. Pendekatan ini memungkinkan sekolah menghapus pungutan komite—kebijakan yang selama ini kerap menjadi beban bagi orang tua di wilayah pedesaan, terutama mereka yang berprofesi sebagai petani kecil, buruh, dan pekerja informal.

Nelson menyadari bahwa pungutan komite justru berisiko menambah angka putus sekolah. “Kami harus memilih jalan yang tidak membebani masyarakat,” ujarnya. Hilangnya pemasukan dari komite digantikan dengan unit produksi ternak yang dikelola sebagai school-based enterprise: kegiatan ekonomi sekolah yang terintegrasi dengan proses belajar.

Penjualan ayam dewasa, anakan, hingga rencana produksi telur kampung menjadi sumber pendapatan rutin. Dana ini tidak hanya menutupi kebutuhan operasional dasar, tetapi terutama membayar honor guru non-Dapodik—mereka yang mengajar mata pelajaran inti namun tidak tercakup dalam sistem pendanaan pemerintah.

Awalnya, gagasan beternak di lingkungan sekolah ditolak oleh sebagian guru karena dianggap tidak sesuai dengan citra sekolah formal. Ada kekhawatiran soal beban tambahan hingga potensi kegagalan. Namun Nelson tetap mendorong uji coba. “Kalau gagal, itu bukan akhir. Itu pelajaran,” kata dia.

Setelah hasil penjualan ayam terbukti menopang pembayaran honor dan kegiatan sekolah, resistensi berubah menjadi dukungan. Guru dan siswa mulai terlibat aktif, menjadikan unit ternak bukan sekadar sumber dana, tetapi ruang belajar kewirausahaan bagi siswa. Mereka mempelajari manajemen usaha kecil, kesehatan ternak, pencatatan keuangan sederhana, pemasaran, pengelolaan risiko, hingga disiplin dan kerja kolaboratif.

Sebelum mengembangkan peternakan, sekolah sempat mencoba usaha pisang Cavendish. Proyek itu gagal total akibat keterbatasan air. Kegagalan tersebut menjadi titik balik: sekolah harus memilih usaha yang paling sesuai dengan kondisi lokal—dan ayam kampung menjadi opsi paling realistis.

Kini unit ternak telah stabil, sekolah mulai mengembangkan program lanjutan berupa produksi pupuk organik dari limbah ternak. Rencana ini diharapkan memperluas sumber pendapatan sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan dan ekonomi sirkular.

Meski demikian, kebutuhan mendesak tetap ada: sumur bor. Tanpa akses air memadai, ekspansi usaha ternak, kebun sekolah, dan produksi organik sulit bertumbuh.

SMA N 1 Amabi Oefeto saat ini menjadi salah satu contoh paling menonjol tentang bagaimana sekolah di daerah pinggiran dapat bertahan dan berkembang melalui inovasi berbasis komunitas. Dari ayam kampung yang sederhana, sekolah ini membangun model pendanaan yang menolong guru, meringankan beban orang tua, dan membuka peluang keterampilan masa depan bagi siswa.(*Arif Bait

- Sponsored Ad - Advertisement

IKLAN

wave logo

Youtube Spektrum-ntt TV

LIVE TV ONLINE

Tekan ESC untuk menutup