Ribuan Pohon Produktif Ditumbangkan Untuk Program CSR, Warga Oebelo Protes Keras

BAGIKAN

TTS.Spektrum-ntt.com || Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menuai protes warga setelah ribuan pohon produktif seperti pohon asam, gewang, dan lontar yang menjadi sumber ekonomi warga selama puluhan tahun, digusur menggunakan alat berat.

Seorang tokoh masyarakat Desa Oebelo, Romeo Babys kepada media ini, Rabu (28/10/26) mengecam tindakan sepihak yang mengatasnamakan program pemerintah untuk merusak sumber ekonomi yang sejak lama telah menghidupi masyarakat Oebelo.

"Kami tidak menolak program CSR tapi yang kami kesalkan adalah penebangan dan pemusnahan ribuan pohon asam milik kami yang sudah puluhan tahun menjadi salah satu sumber ekonomi terbesar masyarakat di sini," ungkap Romeo Babys didampingi sejumlah tokoh masyarakat yang juga menyesalkan hal yang sama.

Romeo mengatakan bahwa pembukaan lahan dengan target 1.300 hektare itu menumbangkan ribuan pohon asam, gewang, maupun lontar, yang selama ini dimanfaatkan masyarakat secara turun-temurun untuk biaya hidup maupun biaya pendidikan anak. 

"Ini kawasan kami yang masyarakat manfaatkan untuk ambil dan jual hasil untuk penuhi kebutuhan ekonomi keluarga dengan anak-anak punya biaya sekolah," katanya.

Lebih lanjut Romeo menjelaskan bahwa ketergantungan warga terhadap hutan asam semakin besar saat lahan persawahan di wilayah tersebut tidak digarap selama kurang lebih 16 tahun akibat persoalan pengairan.

"Sejak 16 tahun lalu saat sawah yang kami garap tidak lagi diusahakan karena masalah pengairan, kami gantung harapan di hasil asam. Begitupun biji pohon duri, gewang dan lontar. Nah kalau sudah dirusak begini nanti masyarakat mau model kermana," jelasnya.

Romeo juga menyebut produksi asam di Oebelo mencapai 5.000 ton setiap tahun. 

Menurut Romeo, persoalan semakin serius ketika kesepakatan dilanggar, dan penggusuran dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan warga pemilik lahan.

"Kita sudah pernah sepakat di kantor desa untuk pohon-pohon asam itu jangan di ganggu, dan bahkan kita sudah usulkan lokasi lain untuk program itu, tapi kok mereka diam-diam bongkar tanpa sepengetahuan kita," bebernya.

Romeo juga mengungkapkan bahwa sekitar 60 hektare lahan hutan asam sudah digusur.

"Kurang lebih sekitar 60 hektare sudah digusur. Sayang sekali. Coba Pak ambil foto dari udara. Saya menyesal dengan perencana yang tidak mau tahu dengan apa yang ada di dalam lahan," pungkasnya.

Selain itu, warga juga mengkritik pola pembukaan lahan yang dilakukan secara terpencar atau lompat-lompat, serta belum jelasnya sumber air untuk mengairi sawah yang akan dicetak.

"Buka lahan yang lompat-lompat begini mau jadi apa? Mau atur dia punya gaya pengairan ke mana? Mata air saja tidak ada," kritik Romeo.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana program CSR dan Pemerintah yang berwenang belum memberikan keterangan resmi terkait perubahan peta kerja dan perencanaan pengairan di lokasi tersebut. (SN/Mega)

- Sponsored Ad - Advertisement

IKLAN

wave logo

Youtube Spektrum-ntt TV

LIVE TV ONLINE

Tekan ESC untuk menutup