Ketua PETASAN Buka Suara Soal Laporan Balik Kasat Pol PP Sikka Kepada Eman Manda. Ini Sikapnya

Ketua PETASAN Buka Suara Soal Laporan Balik Kasat Pol PP Sikka Kepada Eman Manda. Ini Sikapnya

SIKKA. SPEKTRUM-NTT.COM || Emanuel Manda, korban dugaan pengeroyokan dan penganiayaan yang dilakukan oleh Tim Satgas COVID-19 Kabupaten Sikka di Daerah Lingkar Luar, yang berlokasi di Rumah dan Kiosnya pada 6 Juli 2021 lalu, memenuhi Panggilan Polisi untuk memberikan keterangan atas LP No. LP-B/155/VII/2021/NTT/Res.Sikka.

 

Senopati Idara, SH, selaku LBH KOMNAS PDH-HAM, (15/7/2021) menyatakan bahwa Emanuel Manda dilaporkan oleh Kasat Pol PP, Buang Da Cunha, atas dugaan tindak pidana menghalang-halangi pelaksanaan penanggulangan wabah dan Protokol Kesehatan atau melawan Tim Gabungan COVID-19 Sikka. Delik hukum yang dikenakan kepada Emanuel Manda adalah dugaan melanggar pasal 14 ayat 1 UU no. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular atau pasal 212 Jo Pasal 216 KUHP. 

 

Silverius Angi, Ketua Forum Peduli Situasi Negara (PETASAN), secara terpisah menyayangkan LP yang dilakukan oleh Buang Da Cunha, Kasat Pol PP Sikka, dan mempertanyakan posis Buang Da Cunha dalam laporan tersebut. Karena menurutnya, yang memutuskan untuk membuat laporan Polisi ini adalah Bupati Sikka selaku Ketua Tim Satgas COVID-19 Kabupaten Sikka. 

"Saya merasa aneh dan lucu atas laporan ini. Pa Buang buat laporan karena korbannya Eman. Pertanyaan saya Buang sebagai apa. Ketua Covid Bupati Sikka, Bukan Buang", Ujar Siflan Angi.

 

Ia lanjut mengatakan bahwa menurut keterangan Istri nya Eman Manda, bahwa pada waktu itu, Pak Buang Da Cunha ada di lokasi kejadian. Harusnya Pak Buang melakukan pencegahan dan larangan terhadap anggota ketika hendak terjadi upaya pengeroyokan, dan bukan membiarkan hal itu terjadi sampai saudara Emanuel Manda mengalami luka terobek besar dan lebam pada bagian pelipisnya. 

"Harusnya kalau Pak Buang sebagai Kasat Pol PP, harus mencegah dan melarang anggota. Bukan membiarkan pengeroyokan itu terjadi, sampai saudara Eman ini lukanya terobek besar di pelipisnya itu", Lanjut Siflan Angi.

 

Ia menyayangkan proses penanganan kasus ini terlalu lama, karena hampir satu Minggu ini tidak ada langkah-langkah konkret. Sampai saat ini saksi-saksi belum ada, dan kalau tidak ada Eman ini korban siapa yang pukul. Apakah Korona yang pukul korban Eman ini. 

"Proses ini juga lama. Hampir seminggu ini tidak ada langkah konkret. Pendekatan pada pihak korban. Terus saksi-saksi sampai saat ini belum ada. Kalau tidak ada saksi, Eman ini korban siapa yang pukul. Ini Korona yang pukul atau keroyok ya", Lanjut Siflan Angi.(**/red