Kupang.Spektrum-ntt.com || Ketua Komunitas Wartawan Peduli Pembangunan (Kowapem) NTT dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Kota Kupang, pada pukul 02:00 dini hari karena sakit. Berita dukacita soal kepergian sang jurnalis itu membawa rasa duka yang mendalam bagi rekan-rekan jurnalis se-NTT.
Informasi tersebut diketahui media ini melalui beberapa postingan rekan jurnalis di media sosial terkait meninggalnya wartawan Fabi Latuan, pada Senin (25/03//24).
""Berduka lagi. Slamat jaln Senior yg sllu membimbing kami hingga sejauh ini," tulis salah satu rekan jurnalis yang berasal dari TTS pada pukul 08:19 WIB.
Sementara, pegiat jurnalistik lainnya yang berasal dari Kabupaten Malaka pun ikut mengucapkan turut berdukacita melalui unggahan status di WhatsApp,"Selamat Jalan Kaka Fabby Latuan! Rekan Wartawan," tulis salah satu anggota Komunitas Wartawan Malaka (Kontas-Malaka).
"Ragamu akan hilang namun karyamu akan selalu ada. Senior wartawan yang berani membongkar kasus (Kaka Fabi Latuan)," tulis kerabat yang lain.
Untuk diketahui, sosok jurnalis sekaligus pimpinan redaksi Suaraflobamor.com telah menorehkan kisah perjuangan hidupnya melalui penyajian berita-berita yang pro terhadap masyarakat.
Fabi Lautan juga dikenal sebagai salah satu wartawan senior di kota Kupang yang berani membongkar beberapa kasus yang marak terjadi di ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa tahun belakangan ini.
Selain itu, Fabi juga dikenal sebagai wartawan pemberani, inovatif dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan tumpul yang dikeluarkan oleh para pemangku kepentingan.
Semasa membidangi giat jurnalistiknya, almarhum telah mendedikasikan diri untuk membela kebenaran dan memperjuangkan keadilan bagi masyarakat dan tidak pernah menerima sogokan dari narasumber dan atau oknum-oknum tertentu yang memiliki kepentingan, bahkan almarhum bertaruh nyawa dalam menjalankan tugasnya seperti yang diamanatkan oleh UU No 40 tahun 1999 tentang kebebasan Pers.
Seperti yang diberitakan media ini sebelumnya pada tanggal 26/04/2022, Fabi dianiaya oleh sejumlah kelompok preman bayaran di Jl. Teratai No. 5, Naikolan Kota Kupang seusai Fabi dkk melakukan jumpa pers bersama jajaran dan pemangku kepentingan di PT. Flobamora.
Insiden tersebut membuat seluruh rekan jurnalis sekota Kupang geram dan mengutuk keras tindakan tersebut dengan menyajikan berita-berita yang bercorak ancaman dan rencana pembunuhan terhadap wartawan Fabi Lautan.
Aksi premanisme yang menimpa wartawan Fabi Latuan juga mendapat kecaman dari berbagai pihak, mulai dari organisasi profesi wartawan, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas masyarakat. Kecaman tersebut diekspresikan lewat aksi malam seribu lilin unjuk rasa ke Markas Kepolisian Daerah NTT, dan juga audiensi dengan petinggi Polri setempat. (*NN/Elang Timur-85)