DIARY HATI,
MELAWAN AMRAH
Ku ucap dengan kebisuan jiwa,
Ku urai tentang sepi yang bersahaja.
Syairnya yang ku pungut dari lembaran usang,
Kubiarkan tiap kata terucap lirih,
Dari apa yang ingin tertulis.
Maka tertulislah...
Diksiku tak sepuitis katamu,
Tapi kata-kata hampa yang bergejolak, Berdesakan mencari jalan,
Tapi jalan yang manakah yang harus ku tempuh?
Terserah,
Kepasrahan tanpa arah,
Memaksa diam... dan "diam",
Entah tentang apapun itu,
Aku hanya tak lagi diingin ada
Perih...
Iya memang perih,
Tapi apalah daya
Aku hanyalah orang biasa yang tak dianggap,
Bagai insan di persimpangan jalan,
Bahkan nyawaku sekalipun sudah tak lagi elok dalam tatapanmu,
Perih....!
Memang terasa perih,
Dendam membara yang terbungkam rapi,
Kini kau ungkap tanpa ucap dihadapanku
Aghh .....
Sedendam itukah 'kau padaku?
Sekian purnama,
Kita telah memaku bumi yang sama,
Cakrawala pun jadi junjungan kita
Tak ada bumi lain yang kita pijaki,
Begitupun cakrawala.
Setidaknya..,
Meski tak dilirik juga tak diinginkan
Gerombolan anjing bisa bernafas legah,
Sekawanan kumbang pun ikut sorak sorai,
Tak ada upeti yang harus dimuntahkannya lagi.
** Syair ini ditulis berdasarkan perasaan penulis dalam menyikapi problematika hidup.
(Novryano-85/MAN)