Belu, Spektrum–ntt.com|| Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi melalui media sosial, kebiasaan membaca buku masih menjadi sesuatu yang terus diperjuangkan. Hal inilah yang dilakukan Stefanus Sintidu, salah satu tenaga pendidik di SMK Katolik Santo Yosef Nenuk (STM), Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Ada hal menarik dari sosok Stefanus. Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai seorang guru, ia juga meluangkan waktu untuk bekerja sampingan sebagai pengemudi jasa transportasi online. Namun, bukan sekadar kendaraan yang ia siapkan untuk mengantar penumpang. Di dalam mobilnya, ia menyediakan sejumlah buku bacaan yang dapat dimanfaatkan penumpang selama perjalanan.
Kebiasaan tersebut berawal dari kecintaannya terhadap dunia literasi. Baginya, waktu luang di dalam kendaraan dapat dimanfaatkan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, salah satunya membaca buku.
Buku-buku yang disediakan pun cukup beragam. Mulai dari buku motivasi, sejarah dunia, filsafat, pemikiran para filsuf seperti Plato, novel, puisi, hingga majalah. Ia bahkan berlangganan Majalah Warta Flobamora sebagai salah satu bahan bacaan.
Menariknya, kebiasaan ini mendapat respons positif dari sejumlah penumpang. Beberapa orang yang kerap meminjam buku berasal dari kalangan guru dan warga sekolah, khususnya dari lingkungan STM.
Untuk menjaga keteraturan peminjaman, Stefanus menerapkan prosedur sederhana layaknya perpustakaan sekolah. Setiap peminjam diminta mencatat nama, judul buku, lama peminjaman, serta membubuhkan paraf.
Menurutnya, buku-buku yang tersedia di dalam kendaraan bukanlah buku pelajaran sekolah, melainkan bacaan umum yang dapat memperluas wawasan dan menambah pengetahuan.
“Buku-buku yang saya bawa di atas kendaraan ini bukan buku-buku tentang pelajaran di sekolah, tetapi buku-buku di luar itu. Karena saya hobi membaca, daripada di dalam kendaraan ini tidak menyimpan apa-apa, lebih baik saya menyediakan buku,” ujar Stefanus.
Ia menegaskan, kebiasaan tersebut bukan untuk mencari pengakuan atau sekadar menunjukkan bahwa dirinya gemar membaca. Sebaliknya, ia ingin membangun kebiasaan sederhana yang dapat menginspirasi orang lain, terutama generasi muda.
“Tujuan saya bukan gagah-gagahan untuk menunjukkan bahwa saya membaca. Tidak. Ini salah satu kebiasaan saya. Karena hobi membaca, saya mengisi waktu luang dengan membaca. Harapannya, anak-anak saya atau minimal anak-anak sekolah bisa tertarik mengikuti kebiasaan yang saya lakukan,” tuturnya.
Lebih jauh, Stefanus mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk mulai mengalihkan sebagian waktu dari media sosial dan media mainstream lainnya kepada aktivitas membaca buku.
Ia berharap setiap orang dapat meluangkan waktu sekitar 15 hingga 30 menit setiap hari untuk membaca. Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang memperoleh informasi baru, menemukan inspirasi, serta mempelajari keterampilan praktis yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan sendirinya saya membangun satu kebiasaan kecil untuk orang lain, bahwa membaca juga adalah bagian dari kehidupan kita. Bagaimana kita menambah wawasan untuk membantu kita berpikir lebih kritis? Kita membaca,” katanya.
Bagi Stefanus, membaca bukan sekadar kegiatan melihat dan memahami rangkaian kata. Membaca merupakan sebuah perjalanan yang membawa seseorang menjelajahi berbagai pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan tanpa harus berpindah tempat.
“Membaca adalah petualangan sunyi sekaligus ramai. Membaca membawa otak berjalan-jalan ke tempat-tempat yang belum pernah terjamah,” demikian ungkapan filosofis yang menggambarkan kecintaannya terhadap buku.
Apa yang dilakukan Stefanus menjadi contoh bahwa gerakan literasi tidak harus selalu dimulai dari gedung perpustakaan, ruang kelas, atau kegiatan formal. Gerakan itu bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana, bahkan dari sebuah kendaraan transportasi online.
Melalui buku-buku yang tersedia di dalam mobilnya, Stefanus ingin menghadirkan pengalaman berbeda bagi para penumpang. Ia berharap kendaraan yang selama ini hanya menjadi sarana transportasi dapat sekaligus menjadi ruang belajar yang hangat dan menyenangkan.
“Mobil taksi online pun kini bisa berubah menjadi ruang belajar yang hangat dan menyenangkan,” ungkapnya penuh harap.
Kisah Stefanus Sintidu mengingatkan bahwa menjadi inspirasi tidak selalu membutuhkan panggung besar. Terkadang, sebuah buku yang diletakkan di kursi kendaraan dapat membuka jendela pengetahuan bagi seseorang.
Sebab, perjalanan tidak selalu tentang seberapa jauh seseorang sampai ke tujuan, tetapi juga tentang pengetahuan apa yang diperolehnya sepanjang perjalanan.
Penulis: Nixon Tae